Cerita Konsumen Perumahan Syariah di Luwuk yang Terancam Kena Tipu Miliaran Rupiah

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Asnawi Zikri

TRIBUNPALU.COM, BANGGAI — Urusan perumahan Syariah Bumi Madani Asri Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kian runyam.

Meski telah beberapa kali melakukan negosiasi, tetapi tak ada titik terang.

Konsumen hanya meminta agar uang dikembalikan seutuhnya.

Konsumen merasa dibohongi oleh PT Indo Tata Graha selaku pengembangan perumahan Syariah Bumi Madani Asri Luwuk karena rumah tak kunjung berdiri.

“Customer sudah resah dan perusahaan berjanji mengambalikan dana. Hingga Dadang dilaporkan dana belum dikembalikan,” ujar Marhum, salah seorang pelanggan perumahan yang terletak di Kelurahan Maahas, Kecamatan Luwuk Selatan, Kabupaten Banggai itu, Senin (7/6/2021) sore.

Menurut Marhum, kuasa hukum Dadang Hidayat telah meminta agar aset perumahan disita terlebih dahulu.

Menurut pihak perusahaan aset perumahan ini hanya sekitar Rp2,2 miliar.

Sedangkan dana konsumen yang sudah disetor mencapai Rp 6 miliar lebih.

“Tadi sudah tanda tangan perjanjian kuasa hukum dengan customer di akta notaris untuk penyiataan aset,” katanya.

Marhum menyesalkan, pihak pemerintah daerah yang sempat hadir ketika PT Indo Tata Graha awal masuk ke Kabupaten Banggai, namun saat terjadi masalah seperti ini malah masa bodoh.

“Jadi jangan hanya hadir saat seremonial saja, nanti ada masalah tidak ada,” ujar dia.

Para konsumen perumahan Syariah Bumi Madani Asri Luwuk terdiri dari berbagai macam profesi, mulai dari pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah Kabupaten Banggai, polisi, hingga guru.

“Ada pejabat, guru, dan polisi. Bahkan saya dengar-dengar ada yang nekat utang untuk beli investasi itu,” beber Marhum yang memang mengidamkan hunian di kawasan strategis di Kota Luwuk tersebut.

Marhum bercerita, awal mula dia terpikat dan percaya dengan perumahan tersebut karena peletakan baru pertama dihadiri oleh Bupati Banggai Herwin Yatim pada 2019 lalu.

Bahkan, tidak ada dalah benakknya akan ditipu karena konsep perumahan Syariah.

“Tidak ada pikiran untuk penipuan karena ada pemerintah jadi kami percaya, apalagi ivestasi Syariah,” beber Marhum.

Dia pun membayar uang muka sebesar Rp 20 juta pada tanggal 14 Desember 2020 sebagai tanda jadi untuk pengambilan rumah dan lahan.

“Rumahnya itu type 36. Kalau luas lahan 6×15 meter,” kata dia.

Setelah itu, dibuatkan perjanjian antara konsumen dan perusahaan, lalu diwajibkan membayar Rp1,9 juta lebih per bulan.

Hingga awal 2021 lalu, setoran bulanan telah mencapai ratusan juta rupiah.

“Saya kloter kedua. Sesuai perjanjian, saya terima kunci di bulan Desember 2021. Kalau yang kloter pertama harusnya terima kunci Desember 2020 lalu,” bebernya.

Karena tidak tepati janji, pihak perusahaan mendapat protes dari konsumen.

Pihak perusahaan kembali berjanji akan menyerahkan kunci di bulan April 2021 untuk kloter pertama, dengan alasan Covid-19 sehingga pembangunan terlambat.

Namun, hanya sebatas janji hingga Ditektur PT ITG Dadang Hidayat ditangkap di Surabaya, Jawa Timur pada Rabu (2/6/2021) lalu. (*)

Sumber: https://palu.tribunnews.com/2021/06/07/cerita-konsumen-perumahan-syariah-di-luwuk-yang-terancam-kena-tipu-miliaran-rupiah?page=all

Print Friendly, PDF & Email

, , , , , , ,

Related posts

Latest posts